Rabu, 2 Mac 2016

Al Qur’an untuk Direnungkan dan Diamalkan

Membaca Al Qur’an untuk Direnungkan dan Diamalkan


Membaca Al Qur’an bukan sekedar dibaca. Namun yang terpenting adalah direnungkan dan diamalkan isi kandungannya. Banyak membaca dibanding dengan membaca Al Qur’an dengan penuh perenungan (tadabbur), tentu dengan penuh tadabbur itu lebih utama (afdhol).
Ibnul Qayyim rahimahullah saat menjelaskan perihal shalat malam dalam Zaadul Ma’ad membawakan bahasan berikut ini:
Para ulama berselisih pendapat manakah yang lebih utama, membaca Al Qur’an dengan tartil sehingga sedikit bacaan yang dihasilkan ataukah membaca Al Qur’an dengan cepat dan banyak yang dibaca. Ada dua pendapat dalam masalah ini.
Menurut Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, juga selain keduanya, membaca Al Qur’an dengan tartil dan penuh tadabbur (perenungan) itu lebih utama daripada membaca Al Qur’an dengan cepat meskipun dihasilkan banyak bacaan. Karena memang maksud membaca Al Qur’an adalah memahami dan merenungkan isinya, juga ditambah dengan bisa mengamalkan kandungannya. Sedangkan membaca dan menghafal Al Qur’an adalah jalan untuk bisa memahami maknanya.
Sebagian salaf mengatakan,
نزل القرآن ليعمل به فاتخذوا تلاوته عملا
“Al Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan. Oleh karenanya, bacalah Al Qur’an untuk diamalkan.”
Makanya, dari dulu yang namanya ahli Al Qur’an adalah yang paham dan mengamalkan isi Al Qur’an (bukan hanya sekedar baca atau bukan sekedar menghafal, -pen). Walaupun ahli Al Qur’an di sini tidaklah menghafalkan Al Qur’an. Adapun jika ada yang menghafalkan Al Qur’an namun tidak memahami dan juga tidak mengamalkan isinya, maka ia bukanlah ahli Al Qur’an walau dia piawai mengucapkan huruf-hurufnya.
Para ulama yang berpendapat pentingnya tadabbur dibanding banyak qiro’ah (baca) juga memberikan alasan lain bahwa iman tentu saja sebaik-baik amalan. Memahami Al Qur’an dan merenungkannya akan membuahkan iman. Adapun jika Al Qur’an cuma sekedar dibaca tanpa ada pemahaman dan perenungan (tadabbur), maka itu bisa pula dilakukan oleh orang fajir (ahli maksiat) dan munafik, di samping dilakukan oleh pelaku kebaikan dan orang beriman. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata,
وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
Permisalan orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah seperti buah rayhanah. Bau buah tersebut enak, namun rasanya pahit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Demikian faedah dari Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Zaadul Ma’ad (1: 327) di pagi ini.
Moga Allah menganugerahkan kita menjadi ahli Al Qur’an, yang rajin membaca,menghafal, dan rajin merenungkannya, serta mengamalkan isinya.
Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tahqiq: Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh ‘Abdul Qadir Al Arnauth, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, tahun 1425 H.
Selesai disusun di pagi hari, 17 Dzulqo’dah 1434 H, di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul

Penulis :Muhammad Abduh Tuasikal (Salah Faham )

Salah Paham dengan Ayat “Kami Lebih Dekat dari Urat Leher”


Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.
Dalam sebuah posting masalah aqidah, kami pernah mengangkat pembahasan cukup krusial yaitu mengenai keberadaan Rabb kita. Keberadaan Allah adalah di atas langit dan Dzat Allah bukan di mana-mana. Itulah kesimpulan yang dapat ditarik. Namun sebagian orang kemudian mengangkat suara tanda kurang setuju. Mereka pun mengemukakan ayat dalam surat Qaaf berikut.
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qoof: 16). Kata mereka, dari sini kita harus katakan bahwa Allah itu dekat, bukan jauh di langit sana. Itulah argumen mereka.
Semoga tulisan berikut bisa menjawab kerancuan di atas. Hanya Allah yang memberi taufik dan kemudahan.
Apa yang Dimaksud Kedekatan Dalam Ayat Ini?
Para ulama ahli tafsir berselisih pendapat mengenai makna kedekatan dalam ayat di atas, apakah yang dimaksud adalah kedekatan Allah atau kedekatan malaikat.
Abul Faroj menyebutkan bahwa ada dua pendapat ketika mengartikan kedekatan dalam ayat di atas.
Pertama adalah kedekatan para malaikat.
Kedua adalah kedekatan Allah dengan ilmu-Nya, sebagaimana yang disebutkan dari Abu Sholih, dari Ibnu ‘Abbas.
Namun ingat, mereka sama sekali tidak memaksudkan kedekatan di situ adalah kedekatan Dzat Allah ‘azza wa jalla, yaitu Dzat Allah dekat dengan urat leher dari seorang hamba. Jadi, jika ulama tersebut menafsirkan kedekatan di situ bukan kedekatan para malaikat, maka mereka mereka akan menafsirkan bahwa kedekatan tersebut adalah kedekatan dengan ilmu dan qudroh (kekuasaan) Allah. –Demikian penuturan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-[1]
Jadi, perlu diperhatikan bahwa tidak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah yang mengartikan kedekatan Allah dengan kedekatan Dzat-Nya, sehingga jika kedekatan-Nya dimaknakan Allah berada di mana-mana, ini adalah makna yang jelas-jelas keliru.
Tafsiran yang Lebih Tepat
Dari dua tafsiran ulama mengenai “kedekatan” dalam surat Qaaf ayat 16, kedekatan yang lebih tepat adalah kedekatan para malaikat bukan kedekatan ilmu Allah. Alasannya adalah:
Pertama: Melihat kelanjutan surat Qaaf ayat 16 yang membicarakan tentang malaikat.[2]
Selengkapnya Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ, إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 16-18). Konteks ayat ini membicarakan tentang malaikat.
Kedua: Yang dimaksudkan “al insan (manusia)” dalam surat Qaaf ayat 16 adalah umum, baik mukmin ataupun kafir. Jika kita menyatakan yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah kedekatan Allah, maka ini sangat bertentangan. Kedekatan Allah tidak mungkin pada orang kafir. Kedekatan Allah hanya pada orang beriman saja. Sehingga yang lebih tepat kita katakan, maksud ayat ini adalah kedekatan para malaikat.[3]
Mungkin ada yang mengatakan bahwa dalam surat Qaaf ayat 16 digunakan kata ‘Kami (nahnu)’, “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”, namun kenapa yang dimaksudkan adalah malaikat dan adakah contoh yang semisal?
Jawabannya, ada contoh ayat yang semisal. Sama-sama menggunakan kata ‘Kami (nahnu)’, namun yang dimaksudkan adalah kedekatan malaikat. Contohnya firman Allah Ta’ala,
لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ , إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (QS. Al Qiyamah: 16-17). Yang dimaksud dengan “Kami” di sini adalah Malaikat Jibril. Allah menyandarkan perbuatan Jibril pada diri-Nya karena Jibril adalah utusan-Nya. Sebagaimana dalam surat Qaaf ayat 16 Allah menyandarkan kedekatan malaikat pada diri-Nya karena malaikat adalah utusan-Nya. Hal itu dibuktikan dalam ayat,
أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ
Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az Zukhruf: 80)[4]. Sehingga pendapat yang lebih tepat, yang dimaksud kedekatan dalam ayat tersebut adalah kedekatan malaikat sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Begitu pula jika kita temukan dalam ayat lainnya yang menyebutkan kedekatan secara umum (mencakup mukmin dan kafir), maka yang dimaksudkan adalah kedekatan para Malaikat.[5]
Kedekatan Allah dengan Orang Beriman
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa makna kedekatan bisa dua kemungkinan yaitu kedekatan Allah atau kedekatan malaikat-Nya, dan bukan berarti mengkonsekuensikan Allah ada di mana-mana. Begitu pula perlu dipahami bahwa kedekatan Allah di sini adalah hanya khusus untuk orang beriman dan bukan dengan orang kafir. Namun apakah kedekatan Allah dengan orang beriman dalam segala keadaan?
Jawabannya, kedekatan Allah di sini hanya dalam beberapa keadaan. Contoh kedekatan Allah adalah:
Pertama: Ketika berdo’a
Sebagaimana hal ini terdapat dalam ayat berikut.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)
Begitu juga terdapat dalil dalam Shohih Muslim pada Bab ‘Dianjurkannya merendahkan suara ketika berdzikir’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالَّذِى تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ
Yang kalian seru adalah Rabb yang lebih dekat pada salah seorang di antara kalian daripada urat leher unta tunggangan kalian.”[6]
Kedua: Ketika sujud
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.”[7]
Jadi kedekatan Allah adalah ketika seorang mukmin beribadah dan ketika seorang mukmin berdo’a. Adapun kedekatan secara umum adalah kedekatan para malaikat, sebagaimana pendapat yang lebih kuat.[8]
Akibat Salah Paham
Di antara akibat salah memahami kedekatan surat Qaaf ayat 16 tersebut adalah berkeyakinan Allah menyatu dengan makhluk atau Allah berada dalam makhluk.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hal ini berbeda dengan pemahaman orang yang menyimpang. Mereka menyangka bahwa Tuhan mereka bercampur dengan darah dan daging manusia. Akibatnya mereka pun menyatakan bahwa manusia tidaklah semata-mata disebut makhluk. Mereka mengatakan bahwa Pencipta dan makhluk itu satu. Menurut sangkaan keliru mereka, Allah sebagai sesembahan berada di dalam dan luar urat leher manusia. Jadi menurut mereka, Allah itu bercampur dengan makhluk. [9] Maha Suci Allah dari sangkaan buruk mereka.
Allah Tetap Berada Di Atas Langit
Walaupun dalam pembahasan kali ini kami membahas kedekatan Allah, namun sekali lagi jangan dipahami bahwa maksud kedekatan di sini melazimkan Allah ada di mana-mana sebagaimana anggapan sebagian orang yang salah kaprah. Tidak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah yang berjalan di atas kebenaran yang menyatakan seperti itu. Allah tetap berada di atas langit sesuai dengan sifat yang layak bagi-Nya. Allahsubhanahu wa ta’ala berada di atas ‘Arsy, terpisah dengan makhluk-Nya. Keyakinan inilah yang menjadi konsensus (ijma’) para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.[10]
Dalil-dalil yang mendukung keberadaan Allah di atas seluruh makhluk-Nya amatlah banyak, sampai-sampai ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa ada 1000 dalil yang mendukung hal ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah itu berada di ketinggian di atas makhluk-makhluk-Nya. Sebagian mereka mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini.”[11]
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya adalah:
Pertama: Ayat tegas yang menyatakan Allah beristiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy. ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi dan paling besar.
Contoh ayat tersebut adalah,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy .” (QS. Thaha: 5)
Kedua: Dalil yang menanyakan di manakah Allah. Seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang budak, “Di mana Allah?” Budak itu menjawab,  “Di atas langit.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa saya?” Budak tersebut menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.” (HR. Muslim)
Adz Dzahabi mengatakan, “Inilah pendapat kami bahwa siapa saja yang ditanyakan di mana Allah, maka akan dibayangkan dengan fitrohnya bahwa Allah di atas langit. Jadi dalam riwayat ini ada dua permasalahan: [1] Diperbolehkannya seseorang menanyakan, “Di manakah Allah?” dan [2] Orang yang ditanya harus menjawab, “Di atas langit”.” Lantas Adz Dzahabi mengatakan, “Barangsiapa mengingkari dua permasalah ini berarti dia telah menyalahkan Musthofa (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [12]
Ketiga: Dalil yang menyatakan bahwa Allah menceritakan mengenai Fir’aun yang ingin menggunakan tangga ke arah langit agar dapat melihat Tuhannya Musa. Lalu Fir’aun mengingkari keyakinan Musa mengenai keberadaan Allah di atas langit. Allah Ta’alaberfirman,
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا
Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”.” (QS. Al Mu’min: 36-37)
Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Mereka jahmiyah yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit, mereka itu termasuk pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan pengikut Muhammad.” [13]
Begitu pula empat imam madzhab bersepakat mengenai hal ini. Bahkan keyakinan ini adalah keyakinan semua nabi. Syaikh Abdul Qodir Al Jailani mengatakan, “Keyakinan bahwa Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya telah disebutkan dalam setiap kitab suci yang Allah turunkan pada para nabi.”[14]
Memang Betul Ilmu Allah Di Mana-Mana, Namun Bukan Dzat Allah
Jika dikatakan ilmu Allah di mana-mana, itu memang benar. Namun jika dikatakan bahwa Dzat Allah ada di mana-mana, maka perkataan seperti ini berarti telah mendustakan 1000 dalil dalam Al Qur’an. Lihatlah perkataan imam madzhab dan para ulama.
Abdullah bin Nafi’ berkata bahwa Malik bin Anas mengatakan, “Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”[15]
Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanyakan, “Apakah Allah ‘azza wa jalla berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kemampuan dan ilmu-Nya di setiap tempat (di mana-mana)?” Imam Ahmad pun menjawab, “Betul sekali. Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, namun setiap tempat tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”[16]
Dari ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, dia berkata, “Aku berkata kepada Abdullah bin Al Mubarok, bagaimana kita mengenal Rabb kita ‘azza wa jalla. Ibnul Mubarok menjawab, “Rabb kita berada di atas langit ketujuh dan di atasnya adalah ‘Arsy. Tidak boleh kita mengatakan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah berada di sini yaitu di muka bumi.” Kemudian ada yang menanyakan tentang pendapat Imam Ahmad bin Hambal mengenai hal ini. Ibnul Mubarok menjawab, “Begitulah Imam Ahmad sependapat dengan kami.”[17]
Penutup
Dengan demikian seharusnya kita dapat mengkompromi antara dalil yang menyatakan Allah berada di atas langit dan dalil kedekatan atau kebersamaan Allah karena tidak mungkin ayat Al Qur’an satu dan lainnya saling bertentangan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah mengatakan, “Kedekatan dan kebersamaan Allah yang disebutkan dalam Al Kitab dan As Sunnah tidaklah bertentangan denga ketinggian Allah Ta’ala. Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dalam setiap sifat-sifat-Nya. Allah Maha Tinggi, namun dekat. Dia Maha Dekat, namun tetap berada di ketinggian.”
Kesimpulan:
  1. Allah berada di atas ‘Arsy sesuai dengan sifat yang layak bagi-Nya.
  2. Allah juga selalu dekat dengan hamba-Nya yang beriman, namun bukan berarti Dzat Allah di mana-mana.
  3. Ilmu Allah di mana-mana, namun Dzat Allah tetap di atas ‘Arsy-Nya.
  4. Tidak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah yang mengatakan kedekatan Allah dengan kedekatan Dzat-Nya sehingga berarti Allah ada di mana-mana.
  5. Allah Maha Tinggi, namun dekat. Dia Maha Dekat, namun tetap berada di ketinggian.
  6. Sesuatu yang mustahil bagi makhluk, tidak mustahil bagi Allah. Makhluk tidak mungkin dikatakan berada di tempat yang tinggi tetapi dekat, namun hal itu mungkin saja bagi Allah. Karena Allah Maha Besar, segala sesuatu sangat mungkin bagi Allah.
  7. Menurut pendapat yang lebih tepat, pada surat Qaaf ayat 16 (Kami lebih dekat dari urat leher), yang dimaksud adalah kedekatan malaikat. Jika ingin dimaknakan kedekatan Allah, maka yang dimaksudkan adalah kedekatan Allah dengan ilmu-Nya dan bukan berarti Dzat Allah di mana-mana.
Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada setiap muslim yang mengkaji risalah ini.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Panggang, Gunung Kidul, 11 Dzulqo’dah 1430 H

Khamis, 31 Disember 2015

Hukum mengucapkan selamat tahun baru

Hukum mengucapkan selamat tahun baru

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin hafizhahullah
Adapun penghujung tahun miladiyyah (masehi) maka TIDAK BOLEH mengucapkan selamat padanya, karena itu bukan tahun yang syar’i.
Bahkan kaum kafir biasa mengucapkan selamat pada hari-hari besar mereka. Seseorang akan berada pada BAHAYA BESAR jika ia mengucapkan selamat pada hari-hari besar orang-orang kafir. Karena ucapan selamat untuk hari-hari besar orang-orang kafir merupakan bentuk RIDHA terhadap mereka bahkan LEBIH.
Ridha terhadap hari-hari besar orang-orang kafir bisa mengeluarkan seorang muslim dari agama Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ahkâm Ahlidz Dzimmah (Hukum-hukum tentang Kafir Dzimmi).
Majmu’ah Manhajul Anbiya

Khamis, 15 Oktober 2015

APAKAH IBADAH ITU

APAKAH IBADAH ITU MENYEMBAH?
Kata "عبد " (abdun) sebenarnya bermakna sebuah tanaman beraroma yang menyimpan banyak daya tarik bagi unta-unta. Unta-unta menjadi gemuk jika mereka memakannya dan juga mulai memberikan lebih banyak susu.
Tanaman ini juga menimbulkan rasa haus ketika unta-unta memakannya dan butuh air minum.
Dengan demikian, tanaman ini memiliki tiga karakteristik, yaitu daya tarik, menjadikan haus, yang akhirnya menghasilkan gemuk dan susu yang melimpah. Oleh karena itu konotasi dari kata ini mengandung unsur penderitaan pada awalnya, tetapi akhirnya keberhasilan dan kenyamanan. Dengan cara berbahasa yang sama orang-orang Arab biasa menggosokkan lemak pada perahu-perahu mereka yang menjadikan perahu-perahu tersebut terlihat jelek, tetapi akhirnya perahu-perahu itu tetap terjaga aman dari pengaruh air. Oleh kare itu perahu tersebut disebut “سفينة معبدة” (safiinatoon mu‘abbadatun).
Ibn Faris telah memasukkan dua makna sebagai dasar untuk kata ini, yaitu kelembutan dan ketangguhan. Di sini ia mengacu kepada semacam kelembutan yang kemudian menghasilkan daya tahan.
Menurut makna dasar ini "عبادة” (ibaadat) yang berarti melakukan suatu perbuatan yang cenderung mengandung ketulusan yang mana sebagai hasil akhirnya adalah sangat menguntungkan walapun pada awalnya memerlukan usaha/ kerja.
لايكلف الله نفسا الا وسعها
Allah tidak memberikan beban melebihi kesanggupannya. (2:286).
Dalam mengikuti Al-Quran, seseorang menerima suatu ikatan pada dirinya yang mungkin merepotkan, namun dalam jangka panjang mereka akan memiliki banyak manfaat bagi dirinya dan larangan-larangan tersebut pada kenyataannya menjadikan karakter dirinya lebih kuat.
Al-Quran telah menjadikan makna ini jelas pada tiga ayat berikut di mana pesan tersebut disampaikan:
وذكر فان الذكرى تنفع المؤمنين
Terus perlihatkanlah petunjuk Al-Quran kepada orang-orang karena hal ini akan menguntungkan mereka yang menerimanya. (51:55).
وما خلقت الجن والأنس الا ليعبدون
Kami telah menciptakan manusia, baik yang menetap ataupun yang nomad, untuk mengikuti bimbingan Ilahiah (Ini mungkin tampak sebagai tantangan pada awalnya, tetapi bermanfaat dalam jangka panjang). (51:56).
ما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون
(dan ingatlah) Kami tidak ingin ada rezeki atau hadiah dari mereka (karena mengikuti petunjuk Ilahiah tersebut). Kerja keras mereka [dalam mengikuti petunjuk ini] adalah untuk keuntungan mereka sendiri. (51:57).
Dengan kata lain, pada awalnya ada kesulitan karena sistem tersebut ketika didirikan oleh setiap individu yang menerima bimbingan dan kemudian melakukan upaya untuk menciptakan suatu sistem. Akan ada oposisi yang kuat dari orang-orang yang tidak ingin menyerahkan hak istimewa mereka; namun, jika usaha ini dilakukan terus, maka sistem tersebut akan berdiri dan semua manfaat yang dijanjikan tersebut akan diperoleh oleh semua orang.
Dalam rangka memahami makna dari "عبد" (Abbad), kita perlu tetap memegang kedua aspek kesulitan dan manfaat dalam pengertiannya, yang kita hadapi dalam hidup kita. Misalnya istilah "تعبيد " (ta'beed) yang berarti bahwa kuda tersebut cukup terlatih untuk kita memanfaatkan dia untuk dinaiki. Ini disebut berkuda atau “memecah kuda”. Istilah tersebut juga bermakna menjadikan suatu jalan itu sama tinggi dan halus sehingga orang dapat menggunakannya untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Apa yang perlu dicatat di sini adalah bahwa pada awalnya semua tugas-tugas ini memerlukan kerja keras, tetapi kemudiannya akan menghasilkan banyak manfaat jangka panjang. Penerapan analogi ini pada petunjuk Al-Quran bermakna bahwa nilai-nilai yang dijelaskan dalam kitab tersebut akan memberikan manfaat jangka panjang kepada siapapun yang mengikutinya dengan menggunakan akal dan penalarannya.
Jadi makna yang sebenarnya dari "عبادة" (ibaadat) mengakui butuh kepada bimbingan/ petunjuk al-Quran melalui kehendak bebas dan kemudian menggunakan akal dan penalaran kita untuk menerimanya dengan penuh keyakinan. Keyakinan yang teguh pada apa yang dinyatakan di dalam Al-Quran adalah kebenaran dan bahwa apa yang dijanjikan dapat dicapai melalui usaha manusia. Ini kemudian menjadi program yang tepat untuk mendidik dan melatih para relawan dalam bimbingan tersebut dengan maksud untuk bekerja bersama-sama membuat sebuah sistem untuk kebaikan umat manusia (2: 151). Ini membutuhkan waktu, tenaga dan sumber daya dimana para relawan ini memperoleh dan menghabiskan melalui kemauan bebas mereka karena mereka telah mengembangkan keyakinan yang tak terbatas ini bahwa apa yang ada di Al-Quran adalah kebenaran dari Allah - Pencipta alam semesta (9: 111).
Al-Quran menyatakan:
اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت
Taatlah kepada Allah dan jauhilah kekuatan yang menentang/ pemberontak. (16:36).
Makna dari "طاغوت" (taghuut) adalah semua kekuatan yang bekerja melawan nilai-nilai permanen, misalnya: eksploitasi, perbudakan, konflik, perang, dll. Oleh karena itu ayat ini bermakna bahwa memberdayakan kemampuan anda sendiri dan kekuatan eksternal alam sesuai dengan bimbingan Al-Qur'an dan menggunakannya untuk kebaikan umat manusia sedemikian rupa sehingga bagian dari kehidupan ini dan bagian selanjutnya dari kehidupan anda adalah kesuksesan (2: 201).
Di tempat lain dikatakan:
لا تعبد الشيطن
Jangan mematuhi syetan. (19:44)
Makna dari "شيطن " (syaiton) adalah sama sebagaimana dijelaskan sebelumnya yaitu dorongan mengikuti keinginan/ nafsu manusia dan tidak menerima nilai-nilai permanen Al-Quran.:
إن الشيطان كان للرحمن عصيا
Sungguh, syetan itu adalah tidak taat kepada ar-Rahman (19: 44).
Syetan yang dirujuk di sini adalah keinginan/ nafsu manusia yang tidak pernah dapat membimbing ke jalan yang benar dan membutuhkan bimbingan Al-Quran - atribut Allah yang disebut di sini adalah ar-Rohman. Lihat judul (R-H-M). Juga lihat judul (Sh-Te-N).
Juga lihat ayat-ayat dari Al-Quran di mana ia mengatakan:
أفرأيت من اتخذ إلهه هواه
Apakah kamu tidak memperhatikan ia yang telah menjadikan keinginannya sebagai penopangnya? (45:23)
Sebuah Ayat lengkap dari Surah an-Nahal yang diberikan di atas adalah sebagai berikut:
ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت
Setiap utusan yang datang dengan pesan dari Allah mendesak orang-orang untuk menerima misi Allah dan menghindari kepalsuan (16:36).
Jadi ini menjadikan makna dari "abad dari Allah" menjadi jelas, karena di tempat lain dikatakan:
ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (4:60).
Mereka masih ingin semua masalah mereka harus diselesaikan melalui cara-cara atau hukum yang tidak baik meskipun mereka telah diperintahkan untuk menghindari hukum durhaka seperti itu (2:257). Dengan demikian jelas bahwa menghindari “طاغوت" (toghuut), atau kedurhakaan, berarti bahwa manusia tidak boleh memecahkan masalah yang dihadapinya sesuai dengan pemikiran dan keinginan pribadinya, maupun melalui cara-cara dan hukum yang tidak baik, tetapi melalui undang-undang yang telah dibuat dan diwahyukan oleh Allah. Inilah yang disebut "اعبدو الله” (a’budullah), yaitu, menerapkan jalan Allah karena ini adalah makna yang benar menurut al-Quran dalam melaksanakan "عبادة" (ibadat) kepada Allah. Al-Quran telah menggunakan istilah "اعبدو الله” (a’budullah) tepatnya sejalan dengan kata "pemerintahan" yang digunakan hari ini.
Surah Al-Kahaf mengatakan di satu tempat:
ولا يشرك بعبادة ربه أحدا
Mereka seharusnya tidak memasukkan orang lain di Abad mereka dari Pemelihara mereka. (18:110).
Di tempat lain dikatakan tentang Allah:
ولا يشرك في حكمه أحا
Dia tidak memasukkan atau membiarkan siapapun berbagi dalam kekuasaannya-Nya. (18:26)
Dengan cara yang sama dikatakan dalam Surah Yusuf bahwa:
إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه
tidak ada pemerintahan kecuali dari Allah. Dia telah memerintahkan untuk tidak menerima ketundukkan kepada yang lain. (12:40).
Jadi kita telah melihat bagaimana Al-Quran telah menggunakan kata kewenangan, pemerintahan, kedaulatan dan ibadah.
Kisah tentang utusan Musa – ia mengatakan kepada Firaun bahwa kebaikan dia kepadanya ketika ia masih anak-anak adalah tidak ada konsekuenasinya karena tetap menjadikan Bani Israil di bawah penindasannya. Al-Quran berbicara tentang orang-orang Firaun yang mengatakan:
وقومهما لنا عابدون
(Haruskan kita menerima apa yang dua bersaudara ini beritahu kita yang tidak lain hanyalah manusia seperti kita), dan ketika bahkan kaum mereka adalah budak-budak kita'? (23:47).
Al-Quran menjadikannya sangat jelas bahwa jika kita ingin beruntung dalam hidup sekarang dan di masa datang maka kita hanya memiliki satu pilihan yaitu mengikuti nilai-nilai permanen sebagaimana yang diwahyukan. Allah telah menyatakan bahwa:
ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون
Orang-orang yang tidak melaksanakan urusan mereka sesuai dengan wahyu yang diberikan oleh Allah (sebagaimana tercantum dalam Al-Quran) adalah orang-orang yang menolak bimbingan (karena itu tidak bisa mendapatkan keuntungan dari itu) (05:44)
Itulah mengapa al-Quran telah mengatakan dengan jelas bahwa orang-orang percaya akan diberi kewenangan hanya jika mereka menegakkan Deen (24:55) dan ini meliputi: (1) nilai-nilai permanen diikuti (2) tidak ada hukum lain yang diikuti
Hal ini menunjukkan bahwa "عبادة" (ibadat) tidak bermakna penyembahan sebagaimana yang dipraktikkan di berbagai sekte, karena penyembahan jenis ini bisa dilakukan di bawah bentuk pemerintahan yang tidak ada hubungannya dengan al-Quran.
Latar belakang sejarah dari istilah ini adalah ketika yang tertindas di bawah Pemerintahan yang menindas dan kejam itu tetap tangguh, maka mereka disebut "عبيد" (abiid). "عبيد"(abiid) dan "عباد"(ibaad) adalah jamak dari "عبد" (abdun). Jamak dari "عابد" (aabid) adalah “عابدون” (aabiduun) dan "عبدة"(abadah), tetapi perasaan simpati bagi orang-orang yang rela atau "عبيد" (abiid) tidak berlangsung lama dan orang-orang yang dibebaskan dari rezim yang menindas mulai berubah menjadi budak lagi. Dengan demikian, kata “عبيد"(abiid) mempunyai konotasi diperintah atau bersikap tunduk. Dengan demikian, makna “عبيد" (abiid) di Al-Quran menjadi tunduk atau diperintah(23:27), dan arti "عبد" (Abbad) menjadi "menjadi tunduk"(26:22), dan"عبد" (abad) menjadi berarti budak, atau bawahan (2:178).
Pada kata ini telah diberikan konotasi ketaatan. Dengan demikian, “تعبد" (ta'abbud) dan "تزلل" (tazallul) digunakan dengan arti yang sama, yaitu berserah diri di hadapan hukum Allah. Ini adalah emosi yang melekat dalam pemujaan, dan dengan demikian "عبادة"(ibadah) menjadi bermakna memuja/ menyembah.
Al-Quran mengatakan:
قالوا نعبد أصناما
mereka mengatakan kami menyembah berhala. (26:71)
Berhala-berhala ini adalah manifestasi dari gambaran yang ada dalam benak para penyembah ini sebagai kepercayaan dan akibatnya mereka mengasosiasikan manfaat dan bahaya dengan keyakinan ini. Oleh karena itu berhala-berhala ini disembah juga dengan mengharapkan karunia atau rasa takut. Keyakinan ini menetap dengan kuat dalam batin para pengikut ini dan menjadi begitu mapan selama periode waktu yang memberikan kepuasan emosional dalam suatu kelompok. Karena manfaat kelompok tersebut dikaitkan dengan memiliki keyakinan umum meskipun salah, mayoritas tidak pernah mempertanyakan hal itu dan ini berlanjut dari generasi ke generasi. Al-Qur'an telah menunjukkan keadaan ini di banyak tempat misalnya ayat (53:23) dan (43:23). Ini juga merupakan dasar pelaksanaan setiap ketundukan.
Dengan mengacu pada kerja keras pada awalnya, hal yang sama memunculkan pada kata “عبد يعبد” (Abida ya'budu) yang bermakna mengekspresikan kebencian atau frustrasi. Oleh karena itu Surah Az-Zukhruf mengatakan:
قل إن كان للرحمن ولد فأنا أول العابدين
Katakanlah jika ar-Rohman bisa mempunyai anak, maka akulah yang akan menjadi yang pertama untuk tidak mengakui dia (43:81)
Dengan kata lain, karena tidak ada pertanyaan dari setiap anak yang dilahirkan- kepada Allah, oleh karena itu tidak ada pertanyaan dari setiap penerimaan dari posisi ini. Sekarang jika " عبدين" (Abideen) adalah dianggap berasal dari “عبد"(Abad), maka ayat ini juga bisa bermakna bahwa jika Allah memiliki anak, maka saya akan menjadi yang pertama untuk mematuhi anak ini, tetapi karena ini belum pernah terjadi, maka saya tidak menerima pemahaman ini. Seluruh argumen ini tidak berdasar, karena diri kita, yang didasarkan pada proses berpikir kita, sebenarnya mendefinisikan kita sebagai manusia, dan hal ini kita tidak bisa meneruskannya kepada keturunan kita yaitu apa yang mendefinisikan diri manusia adalah non-fisik dan tidak diatur oleh hukum-hukum fisik. Al-Quran menekankan secara berulang pada penerimaan wahyu sebagai standar eksternal untuk mengelola urusan manusia berdasarkan nilai-nilai permanen dan menyatakan bahwa ini adalah dunia manusia dan manusia memiliki kehendak bebas untuk membuat pilihan mereka sendiri. Tidak ada jalan pintas untuk proses ini dan ini hanya mungkin jika kita pertama-tama memahami al-Quran – jalan yang Allah menginginkan kita untuk memahaminya. Hal ini semua dijelaskan dalam Al-Quran dan undangan ini dialamatkan kepada seluruh umat manusia sepanjang masa.
“العبد" (al-abad) berarti seorang manusia apakah dia merdeka ataupun seorang budak. Belakangan kata ini mulai digunakan dengan arti budak.
Ringkasan dari diskusi terkait dengan istilah ini adalah:
1. Di manapun ibadat kepada Allah disebutkan, itu bermakna mengikuti al-Quran dengan penerimaan secara penuh dengan penggunaan secara penuh akal dan penalaran manusia. Hal ini akan membawa keyakinan batin dan seseorang akan dapat melihat manfaat terkait dengan mengikuti bimbingan tersebut. Dalam proses menegakkan sebuah sistem, beberapa dalam bentuk mengekspresikan emosi kolektif dalam sebuah jama’ah misalnya katakanlah ritual sholat yang secara fisik menunjukkan keinginan kita untuk mengikuti hukum-hukum Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Namun, beranggapan bahwa itu adalah ujungnya, adalah bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan ketika melihat secara logis tidak akan pernah bisa terjadi, karena pertemuan ritual berjama’ah sebagaimana yang kita lihat ini, tidak memecahkan masalah kemanusiaan yang diperlukan dengan mengikuti nilai-nilai permanen. Untuk detailnya, lihat topik salat pada judul (Sd-LW). Rukuk dan sujud kepada Allah bermakna bahwa kita menyerahkan diri di depan hukum Allah, dan kita menerima dengan sengaja hukum-hukum Allah. Petunjuk Al-Quran adalah berisi tentang memecahkan masalah-masalah manusia berdasarkan nilai-nilai permanen dengan hanya satu otoritas, yaitu Allah – tidak ada model buatan manusia dan ini adalah yang dimaksud dengan kebebasan yang sesungguhnya.
Surah Al-Baqrah yang menyatakan " اسلمت” (aslamtu) dan " نعبد" (na'budu) bermakna hal yang sama. Hal inilah yang disebut sebagai cara hidup(2:131-133) ditambah kata-kata " مسلمون"(muslimoon), " عابدون" (abidoon) dan " مخلسون” (mukhlisoon) juga telah digunakan dengan makna ini (2:136-138).
2. Di manapun "طاغوت" (toghuut ) atau kepalsuan disebut, itu berarti kesetiaan manusia kepada nafsu sendiri atau mengikuti perintah manusia lain. Kepatuhan ini mencakup kesetiaan kepada pemerintah yang menindas dan juga termasuk pengajaran dari - yang disebut sebagai- para pemimpin agama. Sebaliknya, beribadah kepada Allah akan berarti mengikuti hukum-hukum Allah dan bukan yang lain.
3. Di manapun ibadat kepada para dewa dan dewi disebutkan, itu berarti pemujaan takhayul kepada berhala-berhala ini. Kesetiaan kepada mereka adalah sama dengan sujud kepada raja dan ratu.
4. "عبادالرحمن" (ibaadur rahman) berarti orang-orang yang mengikuti hukum-hukum Allah. Ini adalah mereka yang mencurahkan seluruh energi dan kemampuan mereka sebagaimana yang diarahkan oleh al-Quran. Ini menjadikan makna "إياك نعبد" (iyyaka na'budu) menjadi jelas, yaitu "Kami hanya melakukan Abad Engkau", atau "Kami hanya sujud kepada hukum-hukum Engkau dan mentaatinya, dan mencurahkan semua energi dan kemampuan kami di jalan yang Engkau telah ditetapkan bagi kami".
Berdiri dan membungkuk secara bersama-sama dalam ritual sholat adalah manifestasi dari emosi untuk setia menghadap Allah, tetapi ibadat kepada Allah adalah tidak terbatas pada bentuk ritual saja. Ibadat kepada Allah berarti mengikuti hukum-hukum-Nya dalam setiap hembusan nafas kehidupan kita dan dalam seluruh aspek kehidupan kita.
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
Dan aku telah menciptakan Jin dan Ins agar mereka hanya tunduk kepadaku. (51:56)
Hal ini juga harus digarisbawahi di sini bahwa dengan mengikuti atau mematuhi hukum-hukum Allah, manusia akan dapat menikmati kebahagiaan surgawi di dunia ini dan itu menjadikannya mampu naik menuju ke level yang lebih tinggi kepada evolusi di dunia selanjutnya. Jadi 'Tata Kelola' atau 'ketaatan' memungkinkan manusia untuk memaksakan diri pada nilai-nilai kehidupan yang lebih tinggi atas diri manusia. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, ini adalah pembatasan yang dikenakan pada diri sendiri dan tidak dipaksakan oleh faktor eksternal. Dan juga bahwa ibadat disini bukan bermakna sejenis ibadah ritual (atau sesajen) sebagaimana yang dilakukan manusia prasejarah/ primitif, yang takut kepada kekuatan alam, dipaksakan pada dirinya dalam rangka menyenangkan kekuatan-kekuatan tersebut.
Sumber: