Khamis, 19 Disember 2013

Doa Rasulullah

Daripada Abu Musa al-Asyaari ra, Rasulullah berdoa: 

Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, dan perbuatanku yang berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kemalasanku, kesengajaanku, kebodohanku, gelak tawaku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan dan dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan, Engkaulah yang mendahulukan dan Engkaulah yang mengakhirkan, serta Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

 (riwayat Bukhari)
 

Isnin, 9 Disember 2013

Merenungkan Sebab Berbagai Bencana di Muka Bumi


Berbagai kebaikan di muka bumi itu karena sebab mentauhidkan Allah dan beribadah pada-Nya. Sedangkan berbagai musibah dan bencana yang datang itu karena sebab perbuatan syirik dan maksiat. Inilah yang patut direnungkan ketika kita mendapati musibah yang menimpa diri kita, menimpa keluarga bahkan bangsa kita.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang merenungkan kejadian-kejadian di muka bumi, maka akan didapati bahwa setiap kebaikan yang ada di bumi itu disebabkan karena mentauhidkan Allah dan ibadah pada-Nya, serta taat pada Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sedangkan segala kejelekan di muka bumi, fitnah (musibah), bencana, kekeringan dan ditindas oleh musuh, itu disebabkan karena menyelisihi perintah Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan menduakan Allah dalam ibadah (syirik)Barangsiapa yang benar-benar merenungi hal ini, maka akan ia dapati bahwa hal ini bisa terjadi pada diri kita secara khusus, yang lainnya secara umum dan khusus. Wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.” (Majmu’ Al Fatawa, 15: 25)
Moga menjadi bahan introspeksi diri …
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, memperbaiki akidah kita dan menyelamatkan kita dari berbagai musibah. Aamiin, Yaa Mujibas Saa-ilin.

@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, faedah di pagi hari penuh berkah, 26/12/1433

Selasa, 26 November 2013

Tanda Hitam Di Dahi

10 Agustus, 2009
CATEGORY: NASEHAT
6757217
Tanya:
“Bagaimana cara menyamarkan/menghilangkan noda hitam di kening/di jidat karena sewaktu sujud dalam shalat terlalu menghujam sehingga ada bekas warna hitam?”
0281764xxxx
Jawab:
Ł…ُŲ­َŁ…َّŲÆٌ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ُ اللَّهِ وَŲ§Ł„َّŲ°ِŁŠŁ†َ Ł…َŲ¹َهُ Ų£َŲ“ِŲÆَّŲ§Ų”ُ Ų¹َŁ„َى Ų§Ł„ْكُفَّŲ§Ų±ِ Ų±ُŲ­َŁ…َŲ§Ų”ُ ŲØَيْنَهُŁ…ْ ŲŖَŲ±َاهُŁ…ْ Ų±ُكَّŲ¹ًŲ§ Ų³ُŲ¬َّŲÆًŲ§ يَŲØْŲŖَŲŗُŁˆŁ†َ فَŲ¶ْŁ„ًŲ§ Ł…ِنَ اللَّهِ وَŲ±ِŲ¶ْوَانًŲ§ Ų³ِŁŠŁ…َاهُŁ…ْ فِي وُŲ¬ُŁˆŁ‡ِهِŁ…ْ Ł…ِنْ Ų£َŲ«َŲ±ِ السُّŲ¬ُودِ
Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).
Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang dimaksudkan dengan tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan.
Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik.
Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyukan.
Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalahshalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).
Ų¹َنْ Ų³َŲ§Ł„ِŁ…ٍ Ų£َŲØِى النَّŲ¶ْŲ±ِ Ł‚َŲ§Ł„َ : Ų¬َŲ§Ų”َ Ų±َŲ¬ُŁ„ٌ Ų„ِŁ„َى Ų§ŲØْنِ Ų¹ُŁ…َŲ±َ فَŲ³َŁ„َّŁ…َ Ų¹َŁ„َيْهِ Ł‚َŲ§Ł„َ : Ł…َنْ Ų£َنْŲŖَ؟ Ł‚َŲ§Ł„َ : Ų£َنَŲ§ Ų­َŲ§Ų¶ِنُكَ فُلاَنٌ. وَŲ±َŲ£َى ŲØَيْنَ Ų¹َيْنَيْهِ Ų³َŲ¬ْŲÆَŲ©ً Ų³َوْŲÆَŲ§Ų”َ فَŁ‚َŲ§Ł„َ : Ł…َŲ§ هَŲ°َŲ§ الأَŲ«َŲ±ُ ŲØَيْنَ Ų¹َيْنَيْكَ؟ فَŁ‚َŲÆْ ŲµَŲ­ِŲØْŲŖُ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„َ اللَّهِ -صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł…- وَŲ£َŲØَŲ§ ŲØَكْŲ±ٍ وَŲ¹ُŁ…َŲ±َ وَŲ¹ُŲ«ْŁ…َانَ Ų±َŲ¶ِىَ اللَّهُ Ų¹َنْهُŁ…ْ فَهَŁ„ْ ŲŖَŲ±َى هَŲ§ هُنَŲ§ Ł…ِنْ Ų“َىْŲ”ٍ؟
Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut.
Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)
Ų¹َنِ Ų§ŲØْنِ Ų¹ُŁ…َŲ±َ : Ų£َنَّهُ Ų±َŲ£َى Ų£َŲ«َŲ±ًŲ§ فَŁ‚َŲ§Ł„َ : يَŲ§ Ų¹َŲØْŲÆَ اللَّهِ Ų„ِنَّ ŲµُورَŲ©َ الرَّŲ¬ُŁ„ِ وَŲ¬ْهُهُ ، فَلاَ ŲŖَŲ“ِنْ ŲµُورَŲŖَكَ.
Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).
Ų¹َنْ Ų£َŲØِى Ų¹َوْنٍ Ł‚َŲ§Ł„َ : Ų±َŲ£َى Ų£َŲØُو الدَّŲ±ْŲÆَŲ§Ų”ِ Ų§Ł…ْŲ±َŲ£َŲ©ً ŲØِوَŲ¬ْهِهَŲ§ Ų£َŲ«َŲ±ٌ Ł…ِŲ«ْŁ„ُ Ų«َفِنَŲ©ِ Ų§Ł„ْŲ¹َنْŲ²ِ ، فَŁ‚َŲ§Ł„َ : Ł„َوْ Ł„َŁ…ْ يَكُنْ هَŲ°َŲ§ ŲØِوَŲ¬ْهِكِ كَانَ Ų®َيْŲ±ًŲ§ Ł„َكِ.
Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).
Ų¹َنْ Ų­ُŁ…َيْŲÆٍ هُوَ Ų§ŲØْنُ Ų¹َŲØْŲÆِ الرَّŲ­ْŁ…َنِ Ł‚َŲ§Ł„َ : كُنَّŲ§ Ų¹ِنْŲÆَ السَّŲ§Ų¦ِŲØِ ŲØْنِ يَŲ²ِيدَ Ų„ِŲ°ْ Ų¬َŲ§Ų”َهُ الزُّŲØَيْŲ±ُ ŲØْنُ Ų³ُهَيْŁ„ِ ŲØْنِ Ų¹َŲØْŲÆِ الرَّŲ­ْŁ…َنِ ŲØْنِ Ų¹َوْفٍ فَŁ‚َŲ§Ł„َ : Ł‚َŲÆْ Ų£َفْŲ³َŲÆَ وَŲ¬ْهَهُ ، وَاللَّهِ Ł…َŲ§ هِىَ Ų³ِŁŠŁ…َŲ§Ų”ُ ، وَاللَّهِ Ł„َŁ‚َŲÆْ ŲµَŁ„َّيْŲŖُ Ų¹َŁ„َى وَŲ¬ْهِى Ł…ُŲ°ْ كَŲ°َŲ§ وَكَŲ°َŲ§ ، Ł…َŲ§ Ų£َŲ«َّŲ±َ السُّŲ¬ُودُ فِى وَŲ¬ْهِى Ų“َيْŲ¦ًŲ§.
Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).
Ų¹َنْ Ł…َنْŲµُورٍ Ł‚َŲ§Ł„َ Ł‚ُŁ„ْŲŖُ Ł„ِŁ…ُŲ¬َاهِŲÆٍ (Ų³ِŁŠŁ…َاهُŁ…ْ فِى وُŲ¬ُŁˆŁ‡ِهِŁ…ْ Ł…ِنْ Ų£َŲ«َŲ±ِ السُّŲ¬ُودِ) Ų£َهُوَ Ų£َŲ«َŲ±ُ السُّŲ¬ُودِ فِى وَŲ¬ْهِ ال؄ِنْŲ³َانِ؟ فَŁ‚َŲ§Ł„َ : لاَ Ų„ِنَّ Ų£َŲ­َŲÆَهُŁ…ْ يَكُŁˆŁ†ُ ŲØَيْنَ Ų¹َيْنَيْهِ Ł…ِŲ«ْŁ„ُ Ų±ُكْŲØَŲ©ِ Ų§Ł„ْŲ¹َنْŲ²ِ وَهُوَ كَŁ…َŲ§ Ų“َŲ§Ų”َ اللَّهُ يَŲ¹ْنِى Ł…ِنَ الَّؓŲ±ِّ وَŁ„َكِنَّهُ Ų§Ł„ْŲ®ُŲ“ُوعُ.
Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah?
Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).
Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij(baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).
Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”.
Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya.
Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”.
Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,
يَŲ®ْŲ±ُŲ¬ُ Ł…ِنْ Ł‚ِŲØَŁ„ِ Ų§Ł„ْŁ…َŲ“ْŲ±ِŁ‚ِ Ų±ِŲ¬َŲ§Ł„ٌ كَانَ هَŲ°َŲ§ Ł…ِنْهُŁ…ْ هَŲÆْيُهُŁ…ْ هَكَŲ°َŲ§ يَŁ‚ْŲ±َŲ”ُŁˆŁ†َ Ų§Ł„ْŁ‚ُŲ±ْآنَ لاَ يُŲ¬َاوِŲ²ُ ŲŖَŲ±َŲ§Ł‚ِيَهُŁ…ْ يَŁ…ْŲ±ُŁ‚ُŁˆŁ†َ Ł…ِنَ الدِّŁŠŁ†ِ كَŁ…َŲ§ يَŁ…ْŲ±ُŁ‚ُ السَّهْŁ…ُ Ł…ِنَ الرَّŁ…ِيَّŲ©ِ Ų«ُŁ…َّ لاَ يَŲ±ْŲ¬ِŲ¹ُŁˆŁ†َ فِŁŠŁ‡ِ Ų³ِŁŠŁ…َاهُŁ…ُ التَّŲ­ْŁ„ِŁŠŁ‚ُ لاَ يَŲ²َŲ§Ł„ُŁˆŁ†َ يَŲ®ْŲ±ُŲ¬ُŁˆŁ†َ
“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Ciri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth).
Oleh karena itu, ketika kita sujud hendaknya proporsonal jangan terlalu berlebih-lebihan sehingga hampir seperti orang yang telungkup. Tindakan inilah yang sering menjadi sebab timbulnya bekas hitam di dahi.

Selasa, 19 November 2013

Dunia yang Fana

Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata: Rasulullah صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… memegang pundakku, lalu bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَŲ§ كَŲ£َنَّكَ ŲŗَŲ±ِيبٌ Ų£َوْ Ų¹َŲ§ŲØِŲ±ُ Ų³َŲØِŁŠŁ„ٍ وَكَانَ Ų§ŲØْنُ Ų¹ُŁ…َŲ±َ رضي الله عنهما يَŁ‚ُŁˆŁ„ُ Ų„ِŲ°َŲ§ Ų£َŁ…ْŲ³َيْŲŖَ فَŁ„َŲ§ ŲŖَنْŲŖَŲøِŲ±ْ الصَّŲØَŲ§Ų­َ وَŲ„ِŲ°َŲ§ Ų£َŲµْŲØَŲ­ْŲŖَ فَŁ„َŲ§ ŲŖَنْŲŖَŲøِŲ±ْ Ų§Ł„ْŁ…َŲ³َŲ§Ų”َ وَŲ®ُŲ°ْ Ł…ِنْ ŲµِŲ­َّŲŖِكَ Ł„ِŁ…َŲ±َŲ¶ِكَ وَŁ…ِنْ Ų­َيَŲ§ŲŖِكَ Ł„ِŁ…َوْŲŖِكَ
“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” Lalu Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore, dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit, dan waktu hidupmu sebelum kamu mati,” (HR. Bukhari No. 6416).

Isnin, 18 November 2013

Bab Zakat

DI dalam Islam telah disyariatkan agar umat Islam yang mahu berzakat, hendaklah mengutamakan pemberian zakatnya kepada pihak amil (institusi zakat) yang telah dilantik oleh pihak pemerintah Islam. Ini kerana, daripada aspek pengagihan zakat, maka para amil sepatutnya lebih tahu, lebih mahir dan lebih saksama dan adil dalam agihannya. Atas dasar itu jugalah, para fuqaha menyarankan, bahawa tidak boleh seseorang muzakki (pembayar) itu mengeluarkan sendiri zakatnya, melainkan ia hendaklah diserahkan kepada amil yang telah disediakan.
Imam al-Qurtubi menyatakan: "Apabila pemerintah berlaku adil dalam mengambil dan membahagikan harta zakat, maka tidak boleh bagi pemilik harta mengagihkannya sendiri zakatnya." Manakala AthaĆ¢€™ pula berkata: "Berikanlah zakat itu kepada pemerintah apabila mereka mengeluarkannya tepat kepada sasarannya." (Eksklusif Zakat, hal. 110)
Apa yang berlaku, seandainya muzakki itu mengeluarkan sendiri zakatnya tanpa amil, dia mungkin tidak begitu mengetahui latar belakang penerimanya, maka di saat itulah dia mudah ditipu. Harus diingat, tersalah memberi sedekah adalah tidak sama dengan tersalah memberikan zakat, kerana sedekah adalah sunat hukumnya sedangkan zakat adalah ibadah rukun yang fardu, maka ada kaedah sah dan batalnya.
Dek kerana itulah, ada fuqaha yang mewajibkan, jika seseorang itu tersalah berzakat sehingga terjatuh kepada si penipu, maka wajib atas dirinya mengeluarkan sekali lagi zakatnya dan jika dia tidak mengeluarkannya, dia dikira masih berhutang kepada Allah SWT.
Kesimpulannya, tunaikanlah zakat kepada pihak amil yang telah disediakan dan tidaklah menjadi kesalahan bagi muzakki untuk memantau agihan yang dilaksanakan oleh pihak amil. Seandainya terbukti pihak amil menyeleweng zakat, maka berikanlah teguran yang wajar.
Jika memang didapati pihak amil telah gagal memikul tugas mengagih zakat dengan berkesan, maka kala itu baharulah ulama memberikan izin agar muzakki memberikan zakatnya sendiri kepada penerima. Seandainya itu belum terjadi, maka sentiasalah mengutamakan institusi zakat, demi menjamin agihan yang lebih tepat dan berkesan terlaksana. WallahuaĆ¢€™lam.


Artikel Penuh: http://www.utusan.com.my/utusan/Bicara_Agama/20131115/ba_02/Kerugian-agih-sendiri-zakat#ixzz2kwmEBVy6
© Utusan Melayu (M) Bhd