Menurut Ibn Abbas, mendirikan solat adalah "menyempurnakan ruku’ dan sujud serta bacaan yang khusyuk", sementara menurut Ibn Qatadah pula, mendirikan solat itu ialah "menjaga waktunya, wudhuknya, rukuk dan sujudnya" dan maksud asal solat itu dalam bahasa arabnya ialah doa. Jadi sewaktu kita solat adalah seolah-olah kita sedang berdoa kepada Allah. Dalam surah Fatihah sendiri terdapat ayat2 yang merupakan doa kita kepada Allah SWT.
Sumber: Blog Lautan Biru.
Ahad, 19 Ogos 2012
Jumaat, 17 Ogos 2012
Menanti Aidil Fitri
Ketahuilah, puasa Ramadhan itu adalah media latihan.
Semacam bengkel jiwa. Semacam medan terapi psikologis.
Menahan haus dan lapar, itu adalah pusat pengekangan untuk sebuah pengendalian.
Pengekangan itu diharapkan sebagai sebuah perjuangan, hingga akhirnya memicu kesadaran baru, bahwa manusia pada hakikatnya tidak berdaya dan sekaligus merdeka.
Kenapa tidak berdaya?
Karena dengan tidak makan dan minum selama satu hari penuh, terasa betapa lemahnya tubuh. Betapa lemahnya semangat kerja. Betapa rentannya emosi untuk labil. Betapa mudah terpancing untuk merasa cemburu, kenapa orang lain hidup berfoya-foya sedang diri sendiri serba kekurangan. Dari sinilah lahirnya kesadaran baru, bahwa manusia, tidak perlu merasa sombong, karena ternyata manusia itu lemah dalam kondisi tertentu. Dari sinilah terbetik rasa empati sosial pada kaum papa. Dari sinila timbul sikap tidak gegabah dalam bersikap dan menilai orang lain. Ternyata kondisi fisik sangat besar pengaruhnya pada sikap dan cara pandang seseorang. Perasaan orang lapar, ternyata berbeda dengan perasaan orang kenyang
Dengan kata lain, manusia merenung kedalam dirinya.
Membaca Sang Aku dengan cermin puasa.
Jika kesadaran itu benar-benar tumbuh sendiri, bukan karena dihafal dan digembar-gemborkan, tapi mencuat dalam kesadaran, refleks, spontan tebetik dari hati yang paling dalam, maka disaat itulah kemenangan sudah tiba. Ternyata umat Islam yang berpuasa itu sanggup mencampakkan semua sampah dan rumput liar yang bersarang dalam dirinya. Mereka berhasil membekuk ego diri. Berhasil mengendalikan diri agar visi hidup yang lebih bermakna dapat mereka raih.
Secara metaforis, disaat itulah Syawal telah tiba. Itulah fajar kemenangan. Anda sudah sampai di negeri sorga kesadaran. Kampung halaman yang bernama fitrah. Dengan kata lain, itulah lebaran hakiki bagi anda. Bukan tanggal lebaran di kalender dan pengumuman pemerintah.
Erianto Anas
Isnin, 13 Ogos 2012
Bab : Mengambil Upah Dakwah Agma.
Surah Yaassiin
Ayat 21
اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ
Turutlah orang-orang yang tidak meminta kepada kamu sesuatu balasan, sedang mereka adalah orang yang mendapat hidayah petunjuk.
Al-Qur`an Sebagai Peringatan
Surah Yaassiin
Ayat 11
إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَن بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ
Sesungguhnya peringatan hanyalah yang engkau berikan kepada orang yang sedia menurut ajaran Al-Qur'an serta ia takut kepada Allah Ar-Rahmaan semasa ia tidak dilihat orang dan semasa ia tidak melihat azab Tuhan. Oleh itu berilah kepadanya berita gembira dengan keampunan dan pahala yang mulia.
Jumaat, 10 Ogos 2012
Bab : Bimbingan
Bimbingan
Ali ibn Abi Talib
Khamis, 9 Ogos 2012
Bab : Berterima Kasih
“Sesiapa yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia, dia tidak tahu berterima kasih kepada Allah”
(Riwayat Ahmad dan at-Tirmizi, bertaraf sahih).
(Riwayat Ahmad dan at-Tirmizi, bertaraf sahih).
Selasa, 7 Ogos 2012
Bab : Iktikaf
|
Tidak ada hadis apalagi quran yang menjelaskan apa yang dilakukan rasulullah ketika ber itikaf, namun banyak ulama dan ahli islam, berpendapat bahwa itikaf harus memperbanyak baca quran, sholat dan dzikir, padahal ini belum tentu dilakukan rasulullah ketika itikaf. Karena tidak ada riwayat yang jelas mengenai hal ini. yang ada hanya tafsir tafsir ulama tentang apa yang sebaiknya dilakukan ketika itikaf.
kalau mau jujur dan menerima apa adanya, makna itikaf adalah diam atau mengurung diri di masjid. Kalau mau jujur dan ‘tidak keminter” maka arti diam tersebut tidak perlu di tafsir-tafsirkan yang mana malah menjauhkan arti ibadah “diam” ini. saya sendiri masih mencari cari dasar dasar yang jelas tentang apa yang dilakukan rasulullah ketika itikaf. Kalau ada dari pembaca yang ingin menunjukkan kepada saya hadis yang terait dengan apa yang dilakukan rasulullah ketika itikaf ini saya mohon dapat diberitahukan saya melalui kolom komen. sementara ini yang saya gunakan ketika itikaf hanya diam dan diam , yang bergerak dalam diri saya adalah jiwa yang berserah kepada Allah. jadi tubuh saya diam dan benar benar diam, tidak begerak sedikitpun. Sementara ini juga saya menggunakan geraknya jiwa yang berserah sebagai amal ibadah yang bernama itikaf ini.
Sumber : SOLO THE SPRIT OF ISLAM
|
Langgan:
Catatan (Atom)